Jumat, 23 Maret 2012

HARI PAHLAWAN


PERINGATAN HARI PAHLAWAN
RABU, 10 NOVEMBER 2010




     MENILIK SEJARAH
    HARI PAHLAWAN
         OLEH : Bpk. M. Sulkan,S.Pd.




Peristiwa 10 November merupakan peristiwa sejarah perang terbesar antara Indonesia dan Belanda dalam revolusi  nasional Indonesia.
Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki (Agustus 1945).
Mengisi kekosongan tersebut, Ir Soekarno mewakili rakyat Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Sebelum dilucuti oleh sekutu, rakyat dan para pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang.
Tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada 25 Oktober. Misi : atas keputusan dan atas nama Sekutu, melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Juga mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya. Maka NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pun membonceng membuat meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di mana-mana.
Di Surabaya, dikibarkan bendera Belanda di Hotel Yamato, telah melahirkan Insiden Tunjungan
Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya, memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober.
Penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan, yaitu : bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas paling lambat jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Ultimatum ditolak, sebab Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga telah dibentuk.
Pada 10 November pagi, tentara Inggris melancarkan serangan besar-besaran. Dengan mengerahkan sekitar 30 000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang dengan rencana bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja.
Di luar dugaan, para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama’ serta kiyai-kiyai pondok jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kiyai-kiyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum. Juga ada pelopor muda seperti bung Tomo dan lainnya. sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama kurang lebih sebulan sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris.
Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.
Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.
                                                                                     
Redaksi mading MTs Sholihiyyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar