Jumat, 23 Maret 2012

KRISIS TANGGUNG JAWAB 2


AMANAT PEMBINA UPACARA
SENIN, 1 NOPEMBER 2010

MARI PERANGI
     TIGA KRISIS TANGGUNG JAWAB
          OLEH : Bpk. Ahmad Saqori, S.Ag.




Perlu dicamkan bahwa di era modernisasi ini, pada prinsipnya kita melihat para generasi muda telah mengalami krisis tanggung jawab. Krisis tanggung jawab tersebut setidaknya meliputi tiga aspek, yaitu :

1.      Krisis tanggung jawab intelektual. Coba kita perhatikan, siswa sekarang seandainya tidak mumpuni dan menguasai materi, sendaianya mendapat nilai yang buruk mereka akan protes. Demikian juga Guru atau Pendidik dalam memberikan nilai juga tidak objektif. Kalau dahulu anak sekolah tidak naik sekolah, nilai merah itu hal biasa. Tetapi sekarang nilai sudah distandardisir. Penilain yang objektif itu lebih baik. Nilai lima tapi nyata, lebih baik daripada nilai sepuluh tapi hanya palsu belaka. Diakui atau tidak di era 70-an dulu siswa lulusan SR atau setingkat sekolah dasar mampu menjadi seorang pendidik/teladan. Tapi sekarang siswa lulusan SMA atau bahkan sarjana pun terkadang tidak mampu menjadi seorang pendidik/teladan.
2.      Krisis tanggung jawab sosial. Di era sekarang ini nilai sosial sudah mulai pudar. Lebih cenderung nilai-nilai individualistis/ego yang lebih ditonjolkan. Semangat gotong royong mulai pudar. Budaya gotong royong sudah mulai hilang.
3.      Krisis tanggung jawab moral. Coba kita perhatikan, moralitas generasi muda saat ini sudah amat bobrok. Kalau dahulu bisa terwujud sumpah pemuda. Pemuda mampu tampil beda berani mengambil sumpah untuk menyatukan bangsa. Tetapi sekarang para generasi muda tidak berani mengambil sumpah apa-apa. Seorang pendidik sudah banyak menampakkan moral tidak sebagai pendidik. Pelajar tidak menampakkan jiwa keterpelajarannya.

Generasi muda sekarang sudah tidak mengenal sejarah lagi. Bisa dikatakan, mungkin ke depan generasi muda tidak memiliki argumentasi yang logis dan rasional. Mungkin ke depan argumentasi generasi muda yang diajukan adalah argumentasi  pokoke”. Coba kita renungkan, sejarah memiliki nilai yang luar biasa. Mari kita pelajari sejarah dengan seksama dan kita ambil keteladanan dan hikmahnya. Kalau kita mampu memahami sejarah, mampu mengambil teladan dan mampu mengambil hikmah dari sejarah, Insya Allah kita tidak akan terkena ketiga krisis tanggung jawab tersebut di atas.
 Sebagai generasi muda hendaknya bisa mawas diri untuk menyelamatkan diri dari ketiga krisis tanggung jawab di atas. Untuk itu mari kita bertekad untuk memerangi ketiga krisis tanggung jawab tersebut. Sebagai seorang siswa memiliki tanggung jawab intelektual nomor satu yaitu belajar dengan sungguh-sungguh. Dalam belajar jangan hanya megandalkan informasi atau transfer ilmu dari Bapak/Ibu guru saja. Ilmu tidak hanya untuk diketahui atau dihafal, tapi untuk dipahami. Setelah dipahami, dihayati lalu diamalkan atau diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita tingkatkan belajar. Jangan  hanya meminta nilai yang baik tapi tanggung jawabnya tidak konsekuen. Ujian sudah di ambang pintu. Untuk itu perhatikan keaktifan masuk sekolah dan perhatikan kegiatan belajarnya.

Oleh redaksi mading MTs Sholihiyyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar